SASTRI: The Alter Ego |
I just need a little space on your monitor. Me, and my needs of writing. |
Seuntai Benang Merah untuk Mereka Berlima
Saya tidak percaya kalau semua destinasi harus indah.
Kata “indah” sendiri absurd rupanya, pun bernilai ambiguitas yang tinggi pula. Bagi saya, indah muncul lewat sugesti di pikiran. Indah tak hanya terepresentasi lewat panorama alam atau kata-kata. Indah bisa jadi ketenangan hati, kepulihan jiwa. Menemukan keindahan bisa jadi adalah mengejar ketenteraman, terutama bagi hati yang tergores luka.
Lima orang (satu yang saya kenal sejak duduk di bangku kuliah; dua yang saya kenal cukup baik di jejaring sosial; dan dua lagi yang belum saya kenal sama sekali) membuat tulisan bertajuk sama yaitu “destinasi move on”.
Saya percaya ketika mas @aklampanyun lewat @Hifatlobrain meminta kelima orang ini untuk menuliskannya, akan ada campur tangan perasaan. Subjeksi tak bisa terelakkan. Pengalaman pribadi sudah pasti jadi dasar. Beberapa destinasi move on ini mereka anggap bisa mengobati—atau sedikitnya mengurangi—kekecewaan dalam hati. Lebih bagus lagi jika bisa mengembalikan jati diri.
Awalnya saya iseng membaca blog mereka. Namun begitu selesai semuanya, saya jadi punya pandangan baru terhadap sebuah destinasi. Ada satu benang merah dari tulisan mereka berlima. Ini hanyalah interpretasi dari pandangan mata saya; kesubjektifan ini bisa saja salah. Tapi saya akan coba menjelaskan satu per satu, sesuai urutan saya membacanya. Pun menjelaskan, di mana letak benang merah itu berada.
*****
Mas @efenerr (efenerr.wordpress.com) menuliskan “Kemana Harus Melangkah Saat Kita Terpuruk” dengan penuh curahan hati. Bahkan ia mengakui selama didera galau ia lupa jati diri—termasuk sebagai traveler.
Tak banyak orang yang menemukan keindahan dari kesederhanaan. Namun justru kesahajaan itulah yang membuat mas @efenerr jatuh cinta pada Solo. Baginya kota ini sarat kedamaian: sahabat, alam, hingga kuliner setempat seperti Sate Landak. Di kota ini pula mas @efenerr melakukan beberapa kegiatan anomali seperti mendatangi Pasar Klewer pada malam hari.
Sementara Bali adalah tujuan major para turis, tapi minor bagi para eksplorer seperti mas @efenerr. Bali memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa besar ketika ia menikmatinya dalam ketidaktahuan. Ketika banyak orang mencari jalan, ia malah memilih untuk tersesat. Seperti katanya, “Manusia lahir sendiri, maka berangkat ke kehidupan selanjutnya juga sendiri pula.”
Bali berhasil menyadarkan mas @efenerr kalau manusia pada dasarnya individualistis. Pun ketika menyelesaikan masalah pribadi.
*****
Ketika yang ditulis untuk pelarian move on adalah destinasi, maka sudah jelas penulisnya adalah traveler. Mas @nuranwibisono (nuranwibisono.blogspot.com) menekankan hal tersebut. Penting, sangat penting untuk menjadikan traveling sebagai opsi pertama dari beberapa opsi selanjutnya mulai dari tangisan hingga racauan di jejaring sosial.
“New Day Rising”, harapan menyongsong hari baru setelah dikecewakan hari kemarin. Sebagai traveler, mas @nuranwibisono bisa dibilang jenis yang impulsif. Hal pertama yang tercetus di benaknya adalah mengepak barang-barang. Impulsifitas itu ia jadikan dorongan untuk pergi jauh dari kerumunan, dalam arti sebenarnya. Barang-barang yang masuk dalam ranselnya tak sebatas baju dan celana; tapi juga tenda, misting, kompor, sleeping bag…
Mas @nuranwibisono percaya kalau membuang galau di tempat ramai bersifat temporer. Oleh karena itu Gili Meno jadi pilihan nomor wahid, paling sepi dibanding dua Gili lain. Gili Meno adalah tempat ia tak melakukan apa pun kecuali menikmati alam. Mengobrol dengan penduduk setempat serta bermain dengan anak-anak. Sepi dan luas; sesepi mendirikan tenda sendiri di pinggir pantai dan seluas laut lepas di bawah langit bertabur bintang.
Ketika Katon Bagaskara dalam grup KLA Project menyanyikan lagu “Yogyakarta”, maka semua orang terhipnotis karenanya. Begitu pula dengan mas @nuranwibisono. Baginya, kota ini punya berbagai cara untuk meleburkan galau di udara. Menghabiskan waktu di Kaliurang sembari memandang Merapi, menyusuri pantai-pantai tak terjamah di Gunungkidul, menyelusup dalam hiruk pikuk Pasar Beringharjo, juga makan gudeg di malam buta.
Ketika di Gili Meno ia menikmati kesendirian, Yogyakarta memberinya kesibukan yang menyenangkan. Saya rasa (mungkin) mas @nuranwibisono memberi opsi, apakah Anda suka atau tidak disibukkan oleh sebuah destinasi.
*****
“Saya tidak percaya pada kata move on dan mungkin tidak akan pernah.”
Itulah kalimat pembuka dari tulisan mas @arman_dhani (terumbukarya.blogspot.com). Mas @arman_dhani dengan tegas menganggap move on sebagai ide imajiner dari sesuatu yang biasanya bernama ‘proses’. Saya pun setuju penuh dengan tulisannya, berjudul “The Crossroads”, diambil dari salah satu bagian kisah The Quest.
“Ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan dan move on buat saya adalah alasan yang paling absurd,” ketiknya. Terlepas dari itu, mas @arman_dhani menyumbang dua destinasi yang bisa membantunya melewati proses sulit.
Mas @arman_dhani mungkin bukanlah salah satu orang yang berdesakan melihat matahari terbit di Pananjakan. Bromo, bagi diri mas @arman_dhani, punya filosofi yang mengingatkan pada pentingnya pengorbanan.
Selain menjadi simbol kedekatan manusia dengan Tuhan (mas @arman_dhani mencontohkan Nabi Musa di Bukit Sinai), Bromo memang punya sejarah dan budaya penggetar batin. Roro Anteng dan Jaka Seger—cikal bakal suku Tengger yang berasal dari irisan nama mereka—dikisahkan pernah mengorbankan salah satu anak kesayangannya. Maka, Bromo seakan menuntun mas @arman_dhani untuk rela berkorban, serta ikhlas dalam melepas.
Destinasi kedua adalah perpustakaan. Ada Perpustakaan Universitas Indonesia di Depok, I: Boekoe di Yogyakarta, juga C20 di Surabaya. Sekarang saya tahu kenapa mas @arman_dhani bagai ensiklopedi berjalan.
******
Matahari terbenam tak hanya penuh romansa. Mbak @maharsiwahyu (journalkinchan.wordpress.com) membuktikannya kekuatan panorama tersebut lewat tulisan “Semangat dari Matahari Terbenam.” Walaupun berjudul semangat, tulisannya punya sisi melankolis yang kental.
Sama seperti mas @arman_dhani, move on bagi dirinya seakan jadi satu bagian dari ‘proses’. Namun dalam menjalani proses itu, mbak @maharsiwahyu butuh tempat pembangkit mood. Dan matahari terbenam adalah anugerah alam yang menyediakan hal tersebut.
Ia bercerita tentang Landas Pacu Paragendog di sebelah timur Pantai Parangtritis: sebuah tebing yang didaki untuk menangkap terbenamnya matahari dengan semburat luar biasa cantik. Setelah itu, mbak @maharsiwahyu menjadikan stasiun kereta api sebagai destinasi kedua.
Saya bisa bayangkan para tuan Belanda melambai salam perpisahan kepada para Mevrouw yang ditelan gerbong-gerbong kereta. Sisi romansa dari stasiun kereta api sudah ada sejak lama. Tapi bagi mbak @maharsiwahyu, stasiun kereta memberi pengalaman yang mengingatkannya pada kebahagiaan juga kesedihan. Ia menyukai stasiun lebih dari itu.
Stasiun Tugu dan Lempuyangan di Yogyakarta adalah dua di antaranya. Mbak @maharsiwahyu suka sekali menyaksikan beragam kegiatan yang berlangsung di sana, termasuk memerhatikan keluarga yang datang lalu makan dengan riang di angkringan.
Stasiun Kereta Api. Sebuah tempat yang harusnya mengantar Anda pada sebuah destinasi, justru menjadi destinasi itu sendiri.
*****
Suatu saat kita akan tahu kalau destinasi tujuan hati yang terpuruk bisa jadi suatu tempat yang tampak muram. Berbeda dari beberapa destinasi sebelumnya, mas @ardiwilda (ardiwilda.com) memilih pemakaman sebagai tempatnya mengubur rasa kecewa.
Dalam tulisannya “Someday We Will Know”, mas @ardiwilda menganggap bahwa move on bukanlah upaya untuk mengisi hati melainkan mengosongkannya. Labuan War Cemetery di Pulau Labuan, teritori Malaysia Timur, adalah tempatnya mengosongkan hati.
Bagi mas @ardiwilda, pemakaman ini dapat menyembuhkan patah hati dengan caranya sendiri: sebuah kesadaran akan nilai kemanusiaan. Dan kemanusiaan jauh lebih esensial dari hubungan pria dan wanita yang berujung putus cinta!
Dalam tulisan yang sama, mas @ardiwilda berjanji ingin kembali ke sana bersama istrinya kelak. Mungkin mas Ardi bisa beritahu saya alasannya J
*****
Itulah sekilas ulasan subjektif saya tentang lima tulisan bertajuk “destinasi move on” versi lima blogger jempolan. Benar kan, sebuah destinasi tak harus indah?
Dan, benang merah itu ada pada kenyataan bahwa mereka berlima bisa menjadikan tempat yang kecil menjadi sesuatu yang besar. Bahwa interpretasi tiap orang akan tiap destinasi itu berbeda. Bahwa sebuah tempat selalu punya sisi lain untuk mereka yang mau mencarinya.
foto: efenerr.wordpress.com
Bagi suku Inca, konstelasi astronomi adalah petunjuk alam nomor satu. Ketika malam tiba, mereka menangkap pertanda lewat gugusan bintang dan posisi bulan. Anda pun bisa melihat langit dari sudut mata mereka jika berada di Desa Pisac.
Konstelasi astronomi telah jadi pegangan hidup bagi Inca, salah satu suku paling termashyur di dunia. Suku yang hidup di sebelah tenggara Peru ini punya pengetahuan sains yang luar biasa pada zamannya. Termasuk, hitung-hitungan bintang dan posisi bulan sebagai penanda waktu mereka.
Bagi suku Inca, langit adalah pertanda. Hembusan angin, gemerlap bintang, dan kelamnya malam menuntun mereka pada sebuah konstelasi yang lebih berdasar pada insting, alih-alih sains. Pun bagi mereka, langit lebih dari sekadar romantis. Terlebih lagi ketika mereka yakin bahwa jauh di atas sana, ada ‘teman’ lain yang menyatu dalam Galaksi Bima Sakti.
Oleh karena itulah Lonely Planet dalam bukunya “1000 Ultimate Sights” menempatkan Desa Pisac, Peru, sebagai salah satu tempat melihat bintang paling indah di dunia. Lengkap dengan kompleks kuil yang berada di puncak bukit, dikelilingi situs benteng dan terasering sawah yang bertahan ribuan tahun lamanya.
Melihat langit kelam yang memayungi tempat ini akan membuat Anda mengerti, kenapa suku Inca sangat akrab dengan konstelasi astronomi. Anda akan dihadapkan dengan langit terjernih dan gugusan bintang terindah di seluruh bumi. Dengan sendirinya, Anda akan menimbang-nimbang bentuk apa yang dihasilkan ribuan bintang di angkasa itu. Coba telisik lagi: ada rubah, ular, juga hewan lain seperti Llama yang sejenis dengan unta.
Selain hitung-hitungan bulan dan bintang, suku Inca juga menjadikan matahari sebagai penanda waktu mereka. Mereka sempat membuat observatorium berupa pilar-pilar di atas bukit. Ketika matahari terbit dan cahayanya memancar di sela-sela pilar, berarti itu waktu yang tepat untuk mulai bercocok tanam. Pintar!
Selain menyaksikan langit paling indah di dunia, Pisac adalah titik yang tepat untuk memulai petualangan di situs peninggalan suku Inca. Desa ini bisa diakses menggunakan bis yang beroperasi 15 menit sekali dari kota terdekat yaitu Cusco. Satu jam perjalanan, untuk jarak 33 kilometer.
Maka dari itu, ayo bersiap ke Peru untuk langit malam paling indah di seluruh jagat raya!
Foto: nandazyitta.blogspot.com
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/04/18/091007/1894956/1025/3/memotret-langit-dari-mata-suku-inca-di-desa-pisac-peru
Mengenang Heroisme Grup Musik Klasik di Dek Kapal Titanic
Dalam film Titanic, sebuah grup musik bermain biola tepat saat kepanikan terjadi di dek kapal. Dalam perayaan 100 tahun tenggelamnya Titanic, 8 musisi asal New York akan mengenang kembali kejadian ini di tempat yang sama.
Bagi Anda yang pernah menonton film Titanic, masih ingatkah adegan itu? Ketika para penumpang kalang-kabut menyelamatkan diri, sebuah grup musik dengan tenang memainkan biola dan violin, melantunkan musik klasik. Bukannya tanpa sebab sang sutradara James Cameron memasukkan adegan ini. Karena sebenarnya, grup musik ini benar-benar ada saat Titanic tenggelam tahun 1912 silam.
Waktu itu, ada 8 orang musisi yang tak saling kenal. Semuanya berada di dek kelas dua, yang terpisah jauh dari dek kelas satu. Saat kepanikan mulai terjadi, salah satu musisi bernama Wallace Hartley mengumpulkan semuanya dalam usaha gagah berani dalam menenangkan penumpang. Wah..
Awalnya mereka bermain di dalam ruangan, di dek kelas dua. Saat para penumpang berbondong-bondong menuju dek atas, mereka pun melakukan hal yang sama. Jadilah mereka bermain musik klasik di dek atas kapal Titanic, berharap semua orang akan tenang ketika mendengar lantunan musik klasik.
Dilansir dari situs nypost, Sabtu (14/4/2012), hal inilah yang menggerakkan 8 orang musisi asal New York untuk mengenang kembali sikap heroik tersebut. Delapan musisi ini pun tak saling kenal. Hingga akhirnya mereka berkumpul dan memberi nama grupnya: The Unfinished. Sama ironisnya dengan lagu yang dimainkan mendiang 8 musisi yang ikut tenggelam bersama Titanic.
Rencananya grup ini akan bermain biola dan violin pukul 02.20 esok hari waktu setempat, tepat saat kapal Titanic tenggelam sepenuhnya ke dalam air. Mereka akan melakukan hal ini di atas dek yang sama, dengan udara menggigit kulit khas Samudera Atlantik. Pada pukul 02.20 itu, kapal memorial Titanic sedang berada di titik tenggelam kapal Titanic yang asli.
“Ini menyeramkan. Benar-benar mengerikan saat memikirkan kami bermain musik tepat di titik para korban Titanic tenggelam,” kata Andrew Mayer, salah satu pemain violin kepada situs nypost.
Kemarin siang, The Unfinished telah melakukan persiapan di dek atas kapal. Mereka dihadapkan dengan kenyataan yang cukup pahit: dingin yang menggigit kulit saat mereka nanti bermain pada pagi buta, di tengah Samudera Atlantik. Disinyalir, suhu udara pagi hari di bawah 10 derajat Celcius.
Tapi, hal itu tak mengurungkan niat kedelapan musisi untuk meneruskan perjuangan mereka. Seperti kata Mayer, “Hal itu pasti lebih buruk bagi mereka (yang meninggal dalam tragedi Titanic). Saya bahkan tidak bisa membayangkan betapa dinginnya.”
Foto: telegraph.co.uk
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/04/14/155533/1892489/1025/mengenang-heroisme-grup-musik-klasik-di-dek-kapal-titanic?vt22011024
Me, in the middle of a major citizen’s problem of job.
Bingkai Romansa India di Kota Seribu Istana
Hati siapa yang tak luluh memandang deretan istana, taman, dan danau menyatu indah dalam satu lanskap? Itulah mengapa Udaipur, sebuah kota kecil di Provinsi Rajashtan, didaulat para traveler sebagai kota paling romantis di India.
Bukannya tanpa alasan julukan ‘Venesia dari Timur’ berhasil diboyong oleh Kota Udaipur. Kota ini dipenuhi istana-istana megah dengan taman-taman cantik menghiasi pelatarannya. Keindahan itu lalu diabadikan lewat pantulan air danau yang tenang. Jika cuaca sedang terang, maka langit biru pun ikut dipantulkannya. Jika malam tiba, gemerlap tak hanya muncul dari pantulan bintang. Cahaya terang dari istana-istana itu memberi rona hangat pada air dingin danaunya.
Dataran Rajashtan boleh saja penuh oleh gurun pasir, tapi Udaipur adalah satu pengecualian. Bersandar pada wilayah Pegunungan Aravalli, kota ini diberkahi lanskap yang indah. Tiap wilayahnya terhubung oleh tiga danau utama, yaitu Fateh Sagar, Pichola, dan Swaroop Sagar.
Arsitektur kota yang menawan terlihat dari bangunan-bangunan dengan ciri khas Mughal, Rajashtan, China, serta Eropa abad pertengahan. Hal ini terlihat jelas lewat gabungan unsur kaca, marmer, lukisan, interior dari perak, serta mosaik warna-warni yang menghiasi banyak sudut bangunan. Sangat indah dipandang mata, dan tak pernah membosankan.
Satu kompleks istana yang jadi primadona Kota Udaipur adalah City Palace. Bayangkan saja sebuah kompleks yang terdiri dari istana-istana megah lengkap dengan taman dan danau yang indah. Di kompleks ini juga terdapat beberapa benteng dan museum yang melambangkan kejayaan India masa lampau. Sesuai sejarahnya, kompleks ini merupakan bekas tempat tinggal masyarakat kelas atas India.
City Palace persis berhadapan dengan Danau Pichola nan luas. Dari balkon paling atas istana, terhampar keindahan Kota Udaipur. Sangat cantik bila diabadikan ketika malam tiba. Tiap turis yang datang bebas menjelajah istana-istana, mulai dari Vilas, Badi Mahal, Jagadish Temple, Krishna Vilas, hingga Manak Mahal.
Punya cukup uang? Fateh Prakash Palace dan Durbar Hall bisa dijadikan tempat menginap versi elit. Istana yang disebut pertama itu, punya interior yang sangat mewah. Para traveler menyebutnya Istana Kristal karena banyaknya batu kristal yang tersebar di tiap sudutnya.
Walaupun keberadaannya memesona, jangan jadikan City Palace sebagai satu-satunya patokan Anda. Udaipur punya sejumlah destinasi wisata lainnya, mulai dari kolam bunga teratai nan indah bernama Saheliyon Ki Badi hingga Udaipur Solar Observatory. Observatorium yang satu itu cukup spesial, karena bertempat di pulau kecil di tengah-tengah Danau Fateh Sagar.
Sebagai kota yang tak terlalu besar, Udaipur bisa dinikmati dengan bersepeda. Tersedia banyak penyewaan sepeda di seantero kota, termasuk juga aktivitas favorit lain yaitu menunggang unta atau kuda. Dengan lanskap kota yang indah, agenda menunggang unta dan kuda ini bisa jadi sangat menarik.
Jangan sungkan untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat yang ramah. Jangan pula ragu untuk menyapa, untuk kemudian membingkai keramahan mereka dalam kamera. Mengenakan baju Sari yang warna-warni, para wanita India tampak sangat cantik.
Lupakan hiruk pikuk kota Delhi, Agra, atau Jaipur yang juga berada di provinsi yang sama. Seperti dikutip dari buku “Lonely Planet: Rajashtan, Delhi & Agra”, Udaipur punya daya magis yang menghipnotis para pengunjungnya. Cobalah sisakan beberapa hari untuk menikmati indahnya danau dari atas perahu, menikmati atmosfer kota yang hangat, serta meresapi kemegahan istana berbalut romansa.
Foto: indiatourism.in
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/04/10/175322/1889162/1025/udaipur-kota-seribu-istana-paling-romantis-di-india?vt22021024
Jauh di sisi barat Pegunungan Himalaya, terbentang sebuah lembah bagai kahyangan. Sesuai namanya, Valley of Flowers terbentang bagai karpet hijau penuh bunga. Menyihir para pendaki yang berusaha menaklukkan dataran tingginya.
Siapa pun yang mencoba menaklukkan puncak-puncak Pegunungan Himalaya pasti tercengang melihat sebuah lembah penuh bunga yang membentang tanpa batas. Bagi para pendaki pemberani ini, Valley of Flowers bagaikan surga. Membentang seluas 87 kilometer persegi dengan titik tertinggi 6.719 mdpl, lembah ini menjadi oase di tengah lelahnya pendakian.
Valley of Flowers merupakan taman nasional yang terletak di Provinsi Uttarakhand, India. Tepat bersebelahan dengan saudara kandungnya, Nanda Devi National Park di bagian timurnya. Dua taman nasional ini tergabung dalam Situs Warisan Dunia yang didaulat UNESCO pada tahun 2004.
Dulu wilayah ini hilang sama sekali dari peta. Dikelilingi gunung dan bebukitan, akses lembah ini tampak hanya diketahui beberapa fauna liar seperti Asiatic Black Bear, Snow Leopard, Brown Bear, dan Blue Sheep. Hingga akhirnya pada 1931 silam, seorang pendaki Inggris Frank S. Smythe menemukan lembah ini setelah sukses mencium puncak Gunung Kamet, salah satu bagian Pegunungan Himalaya.
Beruntunglah Smythe, karena ia menemukan lembah ini sedang menunjukkan wajah cantiknya. Ialah yang memberi lembah ini nama “Valley of Flowers”, sesuai dengan judul bukunya yang ditulis kemudian. Buku itu menceritakan keindahan lembah yang terlindung dataran ganas Himalaya.
Selanjutnya pada 1939, seorang botanis dari Royal Botanic Gardens Edinburgh bernama Margaret Legge tiba di lembah ini untuk melakukan penelitian. Namun sayang, Legge terpeleset dan terperosok masuk ke dalam jurang. Jasadnya bersemayam di antara tebing-tebing tajam. Saudara kandungnya kemudian melakukan trekking ke lembah ini untuk membuatkan Legge sebuah memorial, yang masih terawat hingga sekarang.
Lembah ini menebarkan pesona terbaiknya antara bulan Juni dan Oktober. Di bulan-bulan itu, tak ada satu pun lahan di yang luput dari tumbuhnya bunga. Beberapa bunga endemik seperti Brahmakamal, Blue Poppy, dan Cobra Lily tersebar di banyak tempat. Bunga-bunga itu sering digunakan dalam beberapa upacara agama Hindu.
Sejauh mata memandang, yang tampak hanya lahan hijau penuh gradasi warna-warni: kuning, merah, oranye, jingga. Bunga-bunga ini tampak nyaman saja dihembus oleh dinginnya angin lembah Himalaya yang menusuk kulit. Sementara di atasnya, langit biru muda khas musim panas hanya tergubris putihnya awan. Tak ada suara apa pun selain gemerisik dedaunan.
Selain musim panas, lembah ini sama sekali tertutup aksesnya. Salju tebal seakan menutupi jalurnya dari pandangan. Kalaupun Anda tiba di lembah ini, tak akan ada secuil pun bunga mekar. Di saat-saat inilah Valley of Flowers menunjukkan wajah ganasnya.
Butuh perjuangan yang tak sedikit untuk mencapai tempat ini. Bandara terdekat adalah Dehradun yang terletak di Jolly Grant, 295 kilometer jauhnya. Dari Jolly Grant, Anda harus berkendara selama 11 jam menuju Joshimath, lalu 1 jam lagi menuju kota kecil Gobindghat. Sampai di Gobindghat, Anda harus melakukan trekking sepanjang 17 kilometer dengan jalur yang cukup terjal. Butuh waktu 4-8 jam untuk akhirnya tiba di Valley of Flowers.
Tapi jika sampai di sana, bersyukurlah, karena tak semua orang pernah melihat keindahan bak surga yang terhampar di depan mata.
Foto: wayfaring.info
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/04/02/192202/1883340/1025/tersihir-pesona-lembah-bunga-pegunungan-himalaya-india
Secangkir Teh dalam Filosofi
Setiap orang adalah filsufnya sendiri.
Dalam filosofi, hampir tak ada yang hakiki. Semua berhak punya bentuk masing-masing. Seperti juga menurutku, bukan hanya manusia yang punya filosofi. Mahluk hidup dan benda mati pun sering kubuatkan filosofi. Itu karena mereka punya arti, dan kuanggap sebagai teman sendiri.
Secangkir teh yang baru hinggap di depanku. Ketika kuhirup, ia malah mengolokku balik. Uapnya panas membuka pori-pori. Tapi aroma yang dibawanya membawa pikiran jauh pergi.
Apa yang tertuang di cangkir ini, cokelat dan pekat. Katanya inilah intisari daun-daun terbaik dari dataran Nepal sana. Dataran tempat jiwaku ingin tertambat, layaknya Pegunungan Everest yang terpaku di atasnya. Teh hitam dalam cangkirku jadi cepat dinginnya, terbawa suhu udara dan angin dingin dari lembahnya. Kupalingkan pandangan lurus ke depan, dan tampaklah seorang wanita Sherpa. Kulitnya sawo matang, matanya kecil dan sipit, tulang pipinya punya rona merah, dan pakaiannya warna-warni.
Ia tersenyum dan memberiku secangkir teh lagi. Kali ini warnanya cokelat muda, dengan aroma amis yang agak menyengat. Raut wajahku mual, tapi si wanita Sherpa tersenyum dan luluhlah hatiku. Rupanya warna teh itu berasal dari mentega yak, yang konon ampuh jadi penghasil tenaga. Seteguk saja, lalu aku memilih untuk minum teh pahit sebenar-benarnya. Kupandang kembali cangkir teh dalam genggaman, dengan tatapan kosong setengah nanar.
Kuambil tegukan kedua. Seketika, rasanya kembali pahit. Senyumku mengembang dan kuseruput isinya dalam jumlah besar. Sama dahsyatnya dengan pecandu rokok yang dua tahun mulutnya terasa asam. Rasa getir langsung menyapu lidah. Kupandangi lagi bungkus tehnya.
Di hadapanku terhidang nampan kue bersusun tiga. Cangkir yang kugenggam berubah jadi perak, dengan teko cantik berukir keemasan. Di hadapan mata, sajian Afternoon Tea ala Inggris telah tertata. Chocolate Fudge Cake, Strawberry Short Cake, serta Scones dengan selai peach dan krim. Dua nampan di bawahnya diisi sandwich-sandwich imut yang tampak sayang untuk dimakan.
Seorang teman baik muncul di sebrang bangku. Cium pipi kanan kiri, menyeruput teh, lalu mengambil sandwich daging asap dari nampan paling bawah. Kami berbicang hangat, hingga ia menertawakanku karena mengunyah Scones terlebih dahulu. Tapi itulah aku, lebih doyan makanan penutup.
Pelayan datang menawarkan pilihan-pilihan teh berikut: pure green tea, green tea with jasmine petals, strawberry tea, chinese oolong tea, dan Edelflower tea.
“No more english breakfast?”
“No, Miss. You couldn’t repeat it. Tasteless.”
Aku ragu. Kupandangi cangkir yang telah habis isinya itu. Ampas di bawahnya sudah tak berbentuk, lumat oleh angan dan waktu. Kuraih kembali bungkus teh itu, kutampar batinku, lalu kubaca lekat-lekat tulisan yang menghiasi plastik kusutnya:
TEH HITAM ASLI
PERKEBUNAN TEH TAMBI
WONOSOBO, JAWA TENGAH
Kulihat sekeliling dan kupandang Ayah yang asyik baca koran harian, tepat di halaman ekonomi. Sepotong pisang goreng sudah bersemayam di mulutnya. Tak lama, ia menghirup teh dari cangkir tanah liatnya. Teh hitam yang sama. Wonosobo punya.
Kamu ngayal apa sih? Kayaknya asik. Minum teh emang bisa bikin pikiran ke mana-mana. Nih, pisang goreng.”
Apalah itu Nepal, London, atau dataran Daarjeling di India sana. Mungkin teh hitam lokal tak cukup berarti untuk disandingkan dengan kelas-kelas itu. Namun ialah awal dari angan-angan yang membumbung tinggi. Jauh, jauh ke berbagai pelosok bumi.
(foto: dimaszen.com)
Museum Anak Kolong Tangga, Mesin Waktu Penuh Nostalgia
Tak banyak orang yang tahu, sebuah museum unik terletak di kolong tangga Taman Budaya Yogyakarta. Inilah Museum Anak Kolong Tangga, yang menjadi mesin waktu Anda kembali ke masa kanak-kanak.
Mungkin Anda akan lewat begitu saja ketika melintasi Taman Budaya Yogyakarta. Jika tak ada pertunjukan, gedung yang terletak di Jl Sri Wedani no 1 ini tampak sepi saja. Tapi cobalah jalan mendekat, dan fokuskan pandangan ke ruangan di bawah tangganya. Jika melihat dinding penuh warna, juga sosok enggrang dan congklak, jangan kedipkan mata. Anda tidak salah lihat.
Ini adalah Museum Anak Kolong Tangga. Nama yang unik, tapi apa adanya. Museum anak yang ada di kolong tangga.
Jika Anda orang dewasa, hanya butuh Rp 2.500 untuk bisa memasukinya. Jika kebetulan sedang liburan bersama anak tercinta, tidak dipungut biaya apa pun kecuali umurnya di atas 15. Tidak mahal sama sekali bila dibandingkan dengan ajang lepas rindu terhadap berbagai permainan anak tradisional.
Ada lebih dari 400 koleksi mainan tradisional dari berbagai daerah dan negara. Beberapa di antaranya diletakkan di luar ruangan, beberapa lagi disimpan baik-baik dalam etalase kaca. Dilansir dari situs museumindonesia.com, adalah seorang seniman berkebangsaan Belgia, Rudi Corens, yang awalnya jatuh cinta pada mainan anak tradisional.
Ia lalu menyimpan koleksi mainannya di dalam rumah, hingga akhirnya menghibahkan hampir seluruh koleksinya pada museum ini. Lalu dibukalah Museum Anak Kolong Tangga, tepat pada 2 Februari 2008.
Pertama-tama, ajaklah si buah hati untuk mencoba beragam permainan yang terletak di area luar. Ada enggrang, congklak, gasing, sepeda roda tiga (trike), dan puluhan permainan lain. Tak ketinggalan, Anda pun masih bisa ikut merasakan keseruan ini. Tak jarang pengunjung yang datang berlama-lama memainkan sebuah alat, hanya untuk mengingat kembali bagaimana cara kerjanya.
Masuk ke ruangan museum, terdapat jajaran etalase kaca berisi mainan anak dari seluruh dunia. Jumlahnya ratusan. Masing-masing diberi label dengan keterangan nama, negara asal, dan sejarah yang melatarbelakangi kehadirannya. Anda akan menemukan banyak fakta yang bersinggungan berdasarkan sejarah masing-masing mainan.
Pastinya Anda ingat Pinokio, kan? Dia adalah boneka panggung dari kayu yang ceritanya bisa hidup, dan hidungnya memanjang ketika berbohong. Boneka-boneka marionet seperti inilah yang akan Anda temukan di dalam ruangan yang sama. Terbingkai cantik di etalase kaca, boneka-boneka panggung ini masih tertata apik dan terjaga kebersihannya.
Jangan heran bila Anda merasa waktu berjalan sangat lambat. Semua mainan tradisional ini layak dilihat, layak diresapi satu per satu, serta layak diingat untuk cerita anak-cucu. Tak akan terasa bahwa di luar ruangan ini, dunia sudah begitu modern sehingga ribuan mainan tradisional perlahan terganti oleh teknologi. Penting bagi anak Anda untuk mengetahui, dulu mereka tak bisa asal sentuh layar tablet seperti sekarang ini.
Jadi, jika Anda berlibur ke Kota Yogya, jangan lupa menyempatkan diri berkunjung ke sini. Museum Anak Kolong Tangga buka pukul 09.00-13.00 WIB pada Selasa-Jumat, dan pukul 09.00-16.00 WIB pada Sabtu dan Minggu. Nikmatilah waktu yang berjalan lamban dengan bernostalgia di museum ini.
Foto: jogjamagz.com
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/03/21/185220/1873802/1025/museum-anak-kolong-tangga-mesin-waktu-penuh-nostalgia
Kashmir, Lembah Himalaya dalam Pelukan India
Nun jauh di utara India, terbentanglah lanskap alam dengan kecantikan luar biasa. Lembah Kashmir menunjukkan wajah terbaiknya di musim semi hingga musim panas. Destinasi baru para traveler untuk melihat megahnya Himalaya.
India tak sebatas Taj Mahal, rempah-rempah, atau Holy Festival sebagai bukti kekayaan tradisi umat Hindu. Bicara India juga bicara lanskap alam, termasuk sebuah lembah indah yang terletak di wilayah utaranya. Berbatasan langsung dengan Pakistan, Lembah Kashmir adalah destinasi favorit para turis saat musim semi dan musim panas.
Hal ini dikemukakan oleh OP Meena, Asistant Director Indiatourism pada acara Astindo International Travel Fair 2012 yang berlangsung di Cendrawasih Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, 16-18 Maret 2012.
“Kashmir adalah destinasi baru bagi para turis di India. Mereka biasanya berkunjung pada musim semi dan musim panas, ketika suhunya sejuk dan bunga-bunga bermekaran,” tutur Meena kepada detikTravel pada Minggu (18/3/2012).
Betapa tidak, ketika musim semi seluruh lembah berubah menjadi karpet bunga. Termasuk juga Tulip Garden yang terbesar seantero Asia!
Sebagai ibukota Provinsi Kashmir, Srinagar adalah kota yang luar biasa cantik. Bangunan-bangunan bergaya arsitektur India berdiri dengan latar komplek Pegunungan Himalaya. Terlebih lagi, ada sebuah danau cantik yang menghiasi kotanya yaitu Dal Lake. Di sekeliling danau inilah Tulip Garden menunjukkan pesonanya.
Selain berenang, Anda juga bisa menginap di houseboat yang terapung di atas Dal Lake. Pada musim dingin, Anda bisa berjalan di atas permukaan danau ini. Tapi ingat, harus tetap berhati-hati.
Selain Srinagar, beberapa tempat yang patut Anda kunjungi adalah Gulmarg dan Sonamarg. Gulmarg, yang dalam bahasa lokal berarti ‘padang bunga’, adalah favorit traveler sepanjang masa. Dari sini Anda bisa menaiki bukit Apharwat, yang terkenal dengan hujan salju intensitas paling tinggi di Himalaya. Tak perlu trekking, Anda bisa menggunakan cable car untuk tiba di puncaknya. Cable car ini sekaligus menjadi yang tertinggi di dunia, yaitu 4.084 mdpl.
Sedangkan Sonamarg, dalam bahasa lokal berarti ‘padang emas’. Di sini mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan 360 derajat Pegunungan Himalaya. Puncak-puncak es seakan tak habis dipandang mata. Ada dua danau yang memperindah lanskapnya, yaitu Bisansar Lake dan Krishnasar Lake.
Bagi Anda penggiat alam bebas, ada ribuan rute trekking yang tersebar seantero Kashmir. Jangan lupa untuk mendatangi Tulin Lake, salah satu danau bebas polusi di dunia. Danau indah ini terletak di ketinggian sekitar 4.000 mdpl.
Tak afdol rasanya bila traveling tanpa membawa oleh-oleh. Dari Kashmir, Anda bisa membeli syal pashmina dan karpet cantik buatan warga lokal. Jika udara sedang menggigit, secangkir Kahwa adalah pilihan yang tepat. Kahwa adalah teh hitam lokal yang dicampur dengan kayu manis, kapulaga, dan madu.
Tak sulit bagi para traveler untuk mencapai Kashmir. Anda bisa melakukan penerbangan dari Delhi langsung ke Srinagar, yang punya bandara internasional. Bahkan di tahun depan, rencananya akan ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Srinagar.
“Kami ingin ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Kashmir, karena beberapa negara sudah melakukan itu. Diharapkan tahun depan sudah bisa terlaksana. Ini untuk memperkenalkan wilayah Kashmir pada masyarakat dunia,” kata Meena.
Foto: touristplaceofindia.wordpress.com
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/03/19/162059/1871176/1025/kashmir-lembah-himalaya-dalam-pelukan-india
Anonymous asked: Nanya kabar dulu boleh gak? Gimana kabarmu pagi ini? :p Nuran :)
Alhamdulillah baik loh mas Nuran :p abis ini aku dicerca deh pasti XD
Maafkan aku kalau aku lucu. Maafkan aku. Aku minta maaf jika aku membuatmu menahan tawa dan kau jadi begitu benci jika dirimu tertawa karena aku....
Kisah kodok yang berubah menjadi pangeran. Mungkin kalian menganggapnya sebagai cerita dongeng. Betul kan? Yah,...

berkali-kali tekadkan diri untuk berhenti,
nyatanya masih diam-diam menyibak tirai,
.
mendapati ada awan tebal disaat kau melahirkan...
Pernah naik angkot? kalo ga pernah berati lo belom menikmati “hidup”.
Pernah kepikiran apa yang lagi dipikirin dalam pikiran para...
Di suatu pertemuan kita berkenalan
“aku nayla” katamu sambil menyodorkan tangan
“aku alex” balasku dan menjabat tanganmu
...